Kamis, 01 Oktober 2015


MEMPERKENALKAN UANG KEPADA ANAK


 sebagai orang tua alangkah baiknya menceritakan kepada anak bahwa uang dapat digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. dan bagaimana cara kita untuk menggunakan uang secara bijaksana.
berawal dari warna, bentuk, jumlah, kegunaan sampai pada penggunaannya.

Jika hari ini kita masih punya pemikiran bahwa mengenalkan konsep uang pada anak dianggap hal tabu. Sebab anak akan menjadi boros dan suka jajan, maka hilangkan cara berpikir kita seperti itu, justru alangkah lebih baik, anak kita dididik langsung oleh orangtua perihal uang ini daripada nantinya dapat pengaruh dari temannya atau orang dewasa di sekitar anak.
Hal pertama dan sederhana sekali yang anak perlu ketahui tentang uang adalah, uang itu apa dan untuk apa. Maka, kita sebagai orangtua bisa menjelaskan kepada anak dengan praktik langsung.
Misal, orangtua mengajak anak ke pasar dan anak melihat serta mengamati transaksi jual beli yang dilakukan orangtuanya, nah setelah proses ini terjadi, orangtua akan sangat mudah sekali menjelaskan kepada anak tentang uang.Setelah memperkenalkan uang dengan cara sederhana dan menyenangkan, saatnya menjelaskan kepada anak, bahwa uang yang dibelanjakan tadi diperoleh dari Ayah atau/dan Ibu yang bekerja, kemudian dibayar atau digaji. Jelaskan juga kepada anak, bahwa jika tidak berhemat dengan membeli hal yang diperlukan saja, maka uang bisa habis dan kita tidak bisa membeli keperluan apapun.

(https://www.selasar.com/gaya-hidup/inilah-7-konsep-uang-yang-harus-orangtua-perkenalkan-pada-anak)
   

Sejak usia 3 tahun, ia sudah bisa diperkenalkan dengan uang. Termasuk diberi penjelasan kapan harus menabung dan membelanjakan uangnya.



"Ma, aku mau sepatu itu," kata Adi (4 tahun) seraya menunjuk ke arah TV yang tengah menayangkan iklan sebuah produk sepatu. "Boleh, tapi tidak sekarang. Mama lagi nggak punya uang," jawab sang ibu. Dari percakapan itu, sebetulnya secara tak langsung sang ibu telah mengajari anaknya bahwa untuk membeli sesuatu, diperlukan uang. Psikolog Sri Triatri mengungkapkan, anak usia 3 tahun pun sebetulnya sudah bisa diperkenalkan tentang apa arti uang dan fungsinya. Anak, katanya, akan cepat mengerti, bahwa lembaran kertas bergambar adalah uang dan bisa untuk membeli sesuatu. "Tapi ia memang belum mengerti, berapa nilai nominalnya."
Kendati sudah bisa diperkenalkan pada uang, tambah Triatri, "Harus dilakukan secara bertahap. Anak usia 3 tahun biasanya baru mampu menghitung sampai 10. Jadi, mulainya dari 100 rupiah, 200 rupiah, 300 rupiah sampai 1.000 rupiah. Jangan langsung diajari sampai jumlah ribuan," tukas dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta ini.



Pendek kata, yang terpenting adalah memperkenalkan fungsi uang sebagai alat pembayaran. "Anak baru benar-benar mengenal nilai-nilai nominal uang sesudah mereka duduk di kelas III Sekolah Dasar, seiring dengan meningkatnya pengetahuan mereka tentang matematika dan hitung-hitungan."



Ada cara paling mudah untuk memperkenalkan uang kepada si kecil. Yaitu lewat permainan semisal pasar-pasaran. Ayah dan ibu, misalnya, pura-pura jadi pembeli sementara si anak jadi penjual. "Gunakan saja uang logam bernominal kecil seperti Rp 100 hingga Rp 1.000. Permainan macam ini tak hanya mengajari anak tentang fungsi uang, tapi juga melatih keterampilannya. Bahkan bisa mengajarkan jiwa wiraswasta pada anak. Siapa tahu nanti besarnya ingin jadi pedagang."










Cara lainnya ialah lewat menabung, dengan catatan cukup diberi uang kecil saja. Misalnya koin Rp 100 per hari atau per minggu, tergantung keuangan orang tua. Belikan anak celengan dari tanah liat atau plastik. "Kalau bisa, celengan plastik transparan sehingga dari hari ke hari, anak bisa melihat kemajuan tabungannya. Lama-lama, kan, ia melihat, uang yang tadinya sedikit menjadi banyak. Nah, ia akan terpacu terus menabung."



Sesudah celengan penuh, buat kesepakatan antara anak dan orang tua. Misalnya, hasil tabungan tak boleh seluruhnya dibelanjakan. Dan jika anak hendak membeli sesuatu yang harus membuka celengannya, maka ibu atau ayah harus tahu. "Karena anak-anak, kan, belum bisa menghitung nilai nominal dengan baik. Jadi ayah/ibu harus mendampingi."



Bila si kecil sudah usia 5 tahun, orang tua sebaiknya mengajak anak menabung di bank. "Bukalah suatu bentuk tabungan untuk anak di mana mereka dapat menabungkan uang recehnya yang sudah berbukit." Tentunya pada tahap awal si kecil akan merasa asing dengan gedung bank dan orang-orang di dalamnya. Ia pun sering merasa khawatir, "Lo, nanti uang yang aku taruh di bank enggak bisa diambil lagi. Itu, kan, uangku."



Penjelasan yang logis dan positif tentang pentingnya menabung di bank, dapat membuat si kecil memiliki kesan positif tentang uang dan bank. Orang tua juga perlu mengajak anak ke bank kala hendak menabung atau mengambil uang, sehingga anak tak akan khawatir lagi uangnya bakal lenyap. "Agar ia makin yakin uangnya bisa diambil suatu saat, lain kali ajak ia untuk mengambil sedikit uang tabungannya di bank."



Tapi, ingat Triatri, orang tua hendaknya jangan hanya mengajari anak menabung. "Ajarkan juga caranya membelanjakan uang tersebut. Bahwa uang yang ditabung itu nantinya bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang diinginkannya." Soalnya, kalau uang cuma ditabung tanpa pernah diambil, "Bisa jadi kelak ia akan menjadi orang yang pelit dan frustrasi. Bahkan kepada dirinya sendiri terang Triatri.


Hartono/nakita, S. (2010, Mei 12). Memperkenalkan uang kepada si kecil 1. Retrieved 10 1, 2015, from Keluarga/Anak/Memperkenalkan-Uang-Kepada-Si-Kecil-1: http://tabloidnova.com/Keluarga/Anak/Memperkenalkan-Uang-Kepada-Si-Kecil-1


dari beberapa kisah diatas, dengan memperkenalkan uang kepada anak, anak dapat mengetahui dari hal yang paling sederhana sampai hal paling penting untuk mengatur kegunaan uang, dan orang tua atau siapapun yang telah memperkenalkan kepadanya akan merasa bahagia dan bangga.

TERIMA KASIH







Tidak ada komentar:

Posting Komentar